Pada beberapa kesempatan yang lalu sudah saya uraikan mengenai Upacara Bayi Baru Lahir Orang Bugbug. Yang balum mengikutinya, silakan KLIK Disini
Tujuan utama upacaranya adalah untuk melukat dan membersihkan sang rare dan catur sanak, mapag atau menyambut kedatangan bayi, dan memohon sangu atau rangsum ketika tali pusar sang bayi telah tanggal, kepus pungset atau sawen. Seperti telah saya sampaikan sebelumnya bahwa dasar pelaksanaan upacara manusa yadnya di Bugbug belum saya temukan referensi tertulisnya. Sementara berdasarkan cerita beberapa pengelingsir yang saya temui dan melihat pelaksanaan upacara yang dilaksanakan. Jadi belum ada dasar refferensi tertulisnya baik berupa lontar dan sejenisnya.
Tujuan utama upacaranya adalah untuk melukat dan membersihkan sang rare dan catur sanak, mapag atau menyambut kedatangan bayi, dan memohon sangu atau rangsum ketika tali pusar sang bayi telah tanggal, kepus pungset atau sawen. Seperti telah saya sampaikan sebelumnya bahwa dasar pelaksanaan upacara manusa yadnya di Bugbug belum saya temukan referensi tertulisnya. Sementara berdasarkan cerita beberapa pengelingsir yang saya temui dan melihat pelaksanaan upacara yang dilaksanakan. Jadi belum ada dasar refferensi tertulisnya baik berupa lontar dan sejenisnya.
Sebagai pembanding saya coba cari padanannya atau referensinya pada beberapa sumber. Salah satunya adalah Lontar Tutur Begawan Anggastyaprana. Lontar ini berisikan tentang pitutur Begawan Anggastyaprana kepada kedua putra putrinya yaitu Sang Surabrata dan Sang Sri Satyakerti. Dijelaskan oleh Sang Anggastyaprana bahwa ketika seorang bayi baru lahir, ada empat saudara yang menyertainya, yaitu yeh nyom, getih, ari-ari, dan luwu. Yang kelima adalah Sang Rarare itu sendiri. Keenam adalah tai langlang, makanya kotor atau leteh sang Rare, sehingga wenang untuk dibersihkan.
1. Kelahiran Sang Rare Membawa Keletehan.
Kelahiran sang bayi membawa serta kekotoran, leteh, sehingga perlu di bersihkan.
1. Kelahiran Sang Rare Membawa Keletehan.
Kelahiran sang bayi membawa serta kekotoran, leteh, sehingga perlu di bersihkan.
“Di lekad rarene ajaka patpat, yeh nyom, getih, ari ari, luwu, lalima maring rare, malih pengenem tai langlang, punika ngawenang reged Sang Rare, punika bresihin sami, ika gawenang banten, tunasang ring Dewa, idihang ring manusa, apang ya bresih, ....... apang priksa ngarad khalan ari arine khalan getihe, khalan luwu, khalane yeh nyom, khalan pelem, khalan tain langlang, ika apang bresih sami”.
2. Pemberitahuan Kepada Hyang Pertiwi
Kepada Hyang Pertiwi perlu diberitahukan tentang kelahiran Sang Rare sekaligus mohon anugerah keselamatan dan panjang umur..
Juga diajarkan dalam lontar ini bahwa ketika sang rare baru lahir, agar mempermaklumkan kepada Ibu Pertiwi, bahwa si jabang bayi telah lahir dari garba sang ibu ke dunia ini, diiringi oleh saudara empatnya (catur sanak). Dengan menghaturkan Pejati, mohon agar Ibu Pertiwi berkenan menerima kehadiran Sang Bayi, mohon anugerah panjang umur dan menemukan sang bayi kerahayuan bersama catur sanaknya.
Mantra,
Ih atangian Ibu Pretiwi, I Rare Bajang metu ring jero weteng, tiba maring sira, sareng sanak nia patpat, lalima kelawan rare bajang, tampi den rahayu, pada hayu, wehana kajenengan tuwuh, kajenengan urip, satekaning sanak ipun kabeh, poma, 3x.
3. Menanam Ari-Ari.
Kepada Ibu Pertiwi juga dimohonkan agar bersedia menerima ari-ari, menjadi tempat menanam ari-ari (mendem ari-ari) Sang Rare, mohon anugrah panjang umur terhindar dari berbagai penyakit
Mantra,
Ih Budaya yanamah swaha, atangya IBu Pretiwi , anak ira akarya luang, metu Ibu Pretiwi, anak ira amendem ari arine I Bajang Rare, tampi den rahayu, apan mulane sakeng sira, mangkin mulih ring sira, tampi den rahayu, awehana pageh tuwuh pageh urip, urip waras lunas lanus, tan ketaman dening gering, saking asih nira Sang Hyang, poma, 3x.
4. Permakluman kepada Sang Akasa
Pemberitahuan dan permohonan yang sama juga disampaikan kepada Sang Akasa.
Mantra,
Wong bhur buah yanama swaha, pukulun paduka Sang Hyang Akasa, I Bajang Rare wuwus metu sakeng jero weteng, sadulur lawan ari arin ipun, lugrahana kaula ingiyas ending iris pering, agawe maka bresih ipun I Bajang Rare, yan sampun palas ipun ring ari arin nia, satekaning luwun ipun, paduka Bhatara masawitang ring Ibu Pretiwi, asungana rahayu aweta hurip, poma, 3.
5. Kepus Pungsed.
Ketika sang rare telah tanggal pusarnya (kepus pungsed) juga dibuatkan upacara.
.... tunasang pabresihan ring I Dewa Kamulan, daksina banten asoroh, nasi warna sapupute, tur menampiang Sang Rare, tunasang toya, nasi warna di jalane manak asoroh, tur ngutang reget bajang colong, malih di luwune metanem, banten nasi warna, punika bresihin, tunasang ring Dewa, idihang ring usada yeh pabresihan, yeh pebajangan, sami bresihin genahe manak ...., Ayah ibu sang rare juga ikut melukat, mahelis, mabersih,
Perbandingan Dengan di Bugbug
Ketika kita bandingkan apa yang sudah dilaksanakan oleh orang Bugbug, ternyata sejalan dengan apa yang diajarkan dalam lontar Tutur Begawan Anggastyaprana., dengan sedikit variasi.
Pada prinsipnya bahwa atas kelahiran sang bayi perlu dilakukan pembersihan skala niskala, sang rare dan sang catur sanak. Demikian pula ketika tali pusar sang bayi telah lepas, perlu dimintakan lagi bekel saraswati kepada Hyang Guru.
Hal yang sama juga adalah adanya permohonan kepada Hyang Pertiwi sebelum membuat lubang tempat menanam Ari-Ari.
Adanya perbedaan bahwa pemberitahuan kelahiran bayi orang Bugbug disampaikan kepada Hyang Guru juga kepada Hyang Pertiwi sedangkan menurut lontar ini disampaikan kepada Hyang Pertiwi dan Hyang Akasa, tidak kepada Hyang Guru. Adanya perbedaan ini silahkan krama Bugbug bijaksana dalam pelaksanaannya.
Supanca
No comments:
Post a Comment