Monday, March 30, 2020

Upacara Bayi Baru Lahir Orang Bugbug

I. Pengantar

Tulisan ini sebenarnya adalah catatan pribadi. Catatan tentang upacara bayi baru lahir  yang dilaksanakan semeton Bugbug. Kalau upacara yang dilaksanakan krama bali pada umumnya, agak banyak referensinya, namun yang khusus dilaksanakan krama bugbug saya belum ketemu referensinya. Makanya saya mencari dengan bertanya-tanya kepada pengelingsir yang sudah sering melakoninya. Catatan ini saya tulis berdasarkan pembicaraan santai dengan beberapa tetua atau pengelingsir yang kebetulan saya temui, bukan berdasarkan suatu penelitian apalagi ilmiah. Tentu saja masih banyak kekurangannya.

Catatan ini saya ingin share atau bagikan kepada teman-teman untuk mendapatkan masukan tambahan untuk melengkapinya. Saya percaya bahwa semeton pembaca tulisan ini mempunyai pengalaman atau pengetahuan yang lebih mengenai masalah ini, apalagi para praktisi yang sudah melaksanakan upacara bayi baru lahir ini, baik sebagai sang adrue karya (yajamana), sang tukang banten (tapeni), dan sang muput karya (pinandita).

Catatan ini tentunya masih sangat jauh dari lengkap apalagi sempurna karena belum jelas referensi tahun pelaksanaannya. Mungkin yang satu memberikan informasi berdasarkan pengalamannya pada waktu yang lalu yang didapatkan dari leluhurnya, yang lain berdasarkan pelaksanaaan yang sudah terpengaruh dengan masa kini. Silahkan semeton mencerna dengan kebijaksanaannya.

Pengamatan selayang pandang, saya melihat bahwa upacara bayi baru lahir sudah jarang dilaksanakan sepenuhnya atau dengan lengkap, paling yang dilaksanakan sekedar upacara mendem ari-ari. Hal ini  beda dengan yang sudah dilaksanakan oleh pengelingsir kita terdahulu. Kalau jaman dahulu, sang bayi pada umumnya lahir di rumah, sehingga dapat dilaksanakan upacara sesegera mungkin. Kini sang bayi umumnya lahir di rumah sakit atau rumah persalinan, sehingga tidak dapat  segera melaksanakan upacara, sehingga yang dilaksanakan sekedar pada menanam ari-ari. Yang lumrah dilaksanakan jaman now bahwa upacara bayi baru lahir dilaksanakan pada saat atau bersamaan dengan upacara bayi berumur 12 hari (ngekehin?)

Sepintas apabila  diamati, upacara bayi baru lahir dapat dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu, pertama upacara menanam atau Mendem Ari-Ari, kedua upacara menyambut kedatangan sang bayi atau Mapag Sang Rare, dan selanjutnya upacara Kepus Pungsed,  ketika pusar (sawen) sang rare lepas atau tanggal.


Tujuan upacara bayi baru lahir bertujuan untuk membersihkan (melukat) sang rare dan sanak atau saudara sang bayi. Saudara sang bayi itu ada empat yag disebut dengan Sang Buta Anta, Sang Bhuta Preta, Sang Bhuta Buta, dan Sang Bhuta Dengen.  Disamping itu dimaksudkan untuk menyambut kehadiran si jabang bayi di tengah-tengah keluarga barunya. Selanjutnya, setelah tanggal pusar, memohon agar dianugerahkan sangu atau bekel dalam rangka si bayi mengarungi hidup dan kehidupann selanjutnya.

II. Pelaksanaan Upacara Bayi Baru Lahir


Bagian Kesatu,
Upacara Menanam atau Mendem Ari-Ari

A. Yang Perlu Disiapkan

Untuk keperluan memendem Ari-Ari,  yang perlu disiapkan  adalah

  1. Sebuah periuk kecil dari tanah, yang pada badan periuk dituliskan Dwi Aksara (Ang dan Ah), dan pada tutup periuk dituliskan aksara Ongkara.
  2. Selembar lontar yang panjangnya sekitar satu jengkal, dituliskan dengan huruf Dasa Aksara Bayu yaitu I A Ka Sa Ma Ra La Wa Ya Ung.
  3. Seperangkat alat tulis. Waktu lampau sepertinya lontar dan alat untuk menulisnya berupa pengutik. Jaman now disesuaikan diganti dengan buku dan pensil.
  4. Ijuk atau duk secukupnya.
  5. 5 Batu pipih kecil  utawi batu lempeh yang masing-masing ditulisi dengan aksara Sang, Bang, Tang, Ang, Ing.
  6. Satu banten Sesayut Palugraha, sarana permohonan kepada Ibu Pertiwi
  7. Satu Jerimpen  sebagai lingga Ibu Pertiwi.
  8. Sebuah segehan putih-kuning dengan sebutir telur bali yang masih mentah.
  9. Segehan catur warna berisikan bawang jahe, sajeng dan air a limas, suguhan sanak Sang Lare.
  10. Pohon pandan
  11. Sebuah Gungan alit,
  12. Sebuah Lampu sintir .
  13. Tirta   Kemulan.

B. Cara Pelaksanaannya


Ari-Ari terlebih dahulu dibersihkan sampai benar-benar bersih. Kemudian ari-ari dimasukkan kedalam periuk yang telah dipersiapkan dan ditutup dengan penutupnya. Periuk kemudian dengan kain putih sehingga tertutup dengan baik dan rapi.
Gali lubang yang dalam dan lebarnya cukup untuk menanam periuk tadi. Sebelum menggali lubang hendaknya terlebih dahulu memohon ijin kepada Ibu Pertiwi. Letakkan batu lempeh sebagai dasarnya dengan urutan yang bertuliskan Aksara Sang di Timur, Bang di selatan, Aksara Tang di Barat, Aksara Ing di Utara, dan Aksara Ing di tengah-tengah.
Masukkan periuk sedemikian rupa sehingga periuk tepat berada di atas batu lempeh. Lingkari periuk dengan ijuk duk yang telah disiapkan sebanyak 3 putaran
Timbun utawi urugin periuk sampai periuk tidak nampak dan didak mudah dirongrong hewan.D i atas lubang diletakkan batu pipih yang agak besar, bila tidak ada dengan 2 batu bata.
Sesayut Palugraha dan Jerimpen diletakkan diatas batu lempeh atau batu bata. 

C.  Siapa dan Cara Ngantebang


Sane nganteb atau mengantarkan upacara biasanya seorang pemangku. Namun ketika dulu tidak banyak ada pemangku. Apabila tidak ada pemangku, dapat dilaksanakan oleh keluarga atau kerabat yang paling tua atau dituakan. Artinya anggota keluarga yang lebih muda yang mengerti dudonan pelaksanaan upacara anak baru lahir ini.
Tidak ada mantera tertentu, cukup dengan sesontengan atau sehe tidak mempergunakan bajra atau genta. Mungkin ketika waktu itu penggunaan genta belum tersosialisasikan. Hanya seorang pendeta yang boleh menggunakannya. Mantera genta juga belum dikenal. Tanpa mengucapkan mantera genta tidak diperkenankan mempergunakan genta. Mantera genta antara lain untuk menstanakan Siwa atau ngelingganin Siwa pada genta.

D. Nunas Tirta Pelukatan dan Tirta Wasuhpada di Merajan.


Sang sane nganteb nunas Tirta pebersihan  pelukatan, nunas ring kemulan, kepada Hyang Guru. Dengan menghanturkan banten yang dipersembahkan, mohon kepada Hyang Guru untuk menganugerahkan Tirta pebersihan pelukatan untuk melukat sang lare dan catur sanak. Juga Tirta Wangsuhpada dalam rangka menyambut kedatangan Sang Rare.

E. Ngantebang Mendem / Menanam Ari-Ari


Sang sane nganteb mohon kepada Sang Ibu Pertiwi untuk berkenan hadir dan bersthana / melingga di Jerimpen. Mohon agar Beliau berkenan menyaksikan upacara ini, kemudian bersedia untuk amukti sari anyukla sari suguhan bebanten yang sudah dihaturkan berupa sesayut palugraha. Lagi mohon ijin kepada Beliau untuk menitipkan / memendem ari-ari dan sanak sang lare di pertiwi.
Selanjutnya dimohon kepada beliau untuk ikut menjaga dan memelihara sang Catur Sanak sampai batas waktu yang telah ditentukan (manut panemaya). Sehe ditutup dengan mengucapkan dasa aksara bayu, yaitu Om I A Ka Sa Ma Ra La Wa Ya Ung ya namah swaha.
Ayab lan ketisin banten dengan Tirta Pertiwi dan Tirta Kemulan sebagai pesaksi.


F. Ngantebang Suguhan kepada Saudara Sang Lare


Sang sane nganteb memanggil atau sebut nama Saudara Sang Bayi, yaitu Sa Ba Ta A I,  bhuta Anta, bhuta Preta, bhuta Bhuta, bhuta Dengen,  haturkan suguhan / pelaba catur warna  dengan permintaan semoga mereka berkenan menerima aturan pelaba atau sajian ini. Juga dimohonkan agar keempat saudara sang bayi ini bersama-sama ikut menjaga sang bayi skala dan niskala sehingga memperoleh kesehatan dan panjang umur.
Ayabang, perciki  dengan Tirya Hyang Guru 3 kali,
Lukat sanak sang rare dengan tirta pelukatan dengan permohonan agar mereka dilukat atau bersihkan dari  kekotoran atau leteh skala dan niskala, selanjutnya metabuh. Lukat juga Sang Lare.
Tanam pohon pandan, selanjutnya pasang dan nyalakan lampu sintir, tutup dengan guungan.

Bagian Kedua, 

Menyambut Kedatangan Sang Bayi


Kedatangan seorang bayi ibaratnya kedatangan seorang tamu yang baru yang akan menjadi bagian dari keluarga. Untuk itu perlu dipermaklumkan kepada Dewa Hyang dan Hyang Guru. Pelaksanaannya dapat di bale / tempat tertentu.

Yang perlu dipersiapkan adalah
1. 2 set Banten Jerimpen, satu sebagai Lingga Hyang Guru dan satunya lagi sebagai Lingga Dewa Hyang atau Hyang Leluhur.
2. Sebuah Banten Dapetan sebagai Lingganya Betara Brahma
3. Tirta Hyang Guru, Tirta Dewa Hyang.


Cara Ngantebang

Sapa sire sane nganteb mohon kepada Hyang Guru dan Dewa Hyang untuk hadir dan melingga atau bersthana pada masing-masing Jerimpen yang telah disediakan. Setelah Beliau bersthana dipermaklumkan bahwa telah hadir seorang bayi yang tiada lain adalah pratisentana aatau damuh beliau. Selanjutnya dimohon agar agar Beliau berkenan menyambut kehadiran Sang Bayi, dan senantiasa menganugerahkan sinar suci kehidupan kepadasi jabang bayi. Tutup dengan mantrera Ong sidirastu ya namah swaha.

Ngantebang Dapetan


Sane nganteb mohon kepada Hyang Brahma juga kehadiranNya dengan melingga atau bersthana pada Dapetan, selanjutnya dimohonkan beliau menjadi Saksi kehadiran si jabang bayi di tengah keluarga ini. Siratin antuk Tirta Dewa Hyang dan Tirta Hyang Guru 3 kali.

Ngantebang Segehan Putih-Kuning

Segehan putih-kuning dihaturkan kepada para iringan Betara Guru  dan Betara Brahma yang menyertai kehadiran Beliau. Ayabang, ketisin Tirta Pelukatan, metabuh 3 kali.


Bagian Ketiga

Upacara Kepus Pungsed (Sawen).


 Ketika pusar sang bayi sudah tanggal perlu dilakukan suatu upacara lagi. Tujuannya memberitahukan kepada Hyang Guru bahwa sangu atau bekel sang lare sudah lepas dan mohon sangu yang baru. Karena sangu yang dibawa oleh sang bayu sudah lepas, berlu dimintakan sangu yang baru kepada Hyang Guru.

Sarananya adalah 2 set sesayut palugraha, sagi, ayunan. Juga disiapkan selembar lontar yang sudah dirajah dengan Dasaaksara, Triaksara, dan Dwiaksara.

Benang tridatu dipasangi bawang putih tunggal, jangu, lontar yang sudah dirajah dasaksara tadi, dilengkapi bangket gidubang? (base, gambir, pamor maulig).


Cara Ngantebang


Sang sane nganteb permaklumkan kepada Hyang Guru bahwa bekel atau sangu sang bayi sudah tanggal atau lepas. Sehubungan dengan itu dimohonkan agar Hyang Guru berkenan menganugerahkan sangu yang baru (bekel saraswati?) kepada sang rare melalui Tirta ini. Ong sidirastu ya namah swaha.

Ayabang dan ketisin Tirta Hyang Guru pada banten ring arep 3 kali.
Benang tridatu dipasangkan pada pergelangan tangan kiri, condengin gidubang pada dahi/gidat, tangan, kaki/paha, dan pusar. Sang bayi perciki dengan Tirta Hyang Guru.
(Supanca)

Baca Juga

Upacara Bayi Baru Lahir - Tutur Begawan Anggastyaprana.

Nasehat Bagi Yang Mempelajari Agama.

Beberapa Catatan pada Lontar Yadnya Prakerti.


Upacara metatah-dan-mesih-warga-bugbug-di-Buleleng.

No comments:

Post a Comment